Selasa, 15 Oktober 2019

HAKIKAT MANUSIA

A. Pengertian hakikat manusia
     Manusia adalah makhluk bertanya, ia mempunyai hasrat untuk mengetahui
segala sesuatu. Atas dorongan hasrat ingin tahunya, manusia tidak hanya bertanya tentang berbagai hal yang ada di luar dirinya, tetapi juga bertanya tentang dirinya sendiri.
       Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pengertian hakikat manusia adalah seperangkat gagasan atau konsep yang mendasar tentang manusia dan makna eksistensi manusia di dunia.

ASPEK-ASPEK HAKIKAT MANUSIA
1. Manusia sebagai Makhluk Tuhan
    Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Tuhan YME. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka bumi ini. Kitab suci menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah.Manusia adalah subjek yang memiliki kesadaran (consciousness) dan penyadaran diri (self-awarness). Oleh karena itu, manusia adalah subjek yang menyadari keberadaannya, ia mampu membedakan dirinya dengan segala sesuatu yang ada di luar dirinya (objek).


2. Manusia sebagai Kesatuan Badan–Roh
    Para filsuf berpendapat yang berkenaan dengan struktur metafisik manusia. Terdapat empat paham mengenai jawaban atas permasalahan tersebut, yaitu Materialisme, Idealisme, Dualisme, dan paham yang mengatakan bahwa manusia adalah kesatuan badan-roh.

A.  Materialisme.
   Gagasan para penganut Materialisme, seperti Julien de La Mettrie dan Ludwig Feuerbach bertolak dari realita sebagaimana dapat diketahui melalui pengalaman diri atau observasi. Oleh karena itu, alam semesta atau realitas ini tiada lain adalah serba materi, serba zat, atau benda. Manusia merupakan bagian dari alam semesta sehingga manusia tidak berbeda dari alam itu sendiri.


B. Idealisme.
Bertolak belakang dengan pandangan materialism, penganut Idealisme menganggap bahwa esensi diri manusia adalah jiwanya atau spiritnya atau rohaninya.


C.Dualisme. Dalam uraian terdahulu tampak adanya Dua pandangan yang bertolak belakang.Pandangan pihak pertama bersifat monis-materialis sedangkan pandangan pihak kedua bersifat monis-spriritualis.


3. Manusia sebagai Makhluk Individu
    Sebagaimana Anda alami bahwa manusia menyadari keberadaan dirinya
sendiri. Kesadaran manusia akan dirinya sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia. Manusia sebagai individu atau sebagai pribadi merupakan kenyataan yang paling riil dalam kesadaran manusia. Sebagai perbedaan dengan manusia yang lainnya sehingga bersifat unik dan merupakan subjek yang otonom.sebagai individu, manusia adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi, memiliki perbedaan dengan manusia yang lainnya sehingga bersifat unik dan merupakan subjek yang otonom.
4. Manusia sebagai Makhluk Sosial
    Dalam hidup bersama dengan sesamanya (bermasyarakat) setiap individu menempati kedudukan (status) tertentu. Sehubungan dengan ini, Aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk sosial
atau makhluk bermasyarakat (Ernst Cassirer, 1987). Terdapat hubungan pengaruh timbal balik antara individu dengan masyarakatnya. Ernst Cassirer menyatakan: manusia takkan menemukan diri, manusia takkan menyadari individualitasnya, kecuali melalui perantaraan pergaulan sosial.
5. Manusia sebagai Makhluk Berbudaya
    Manusia memiliki inisiatif dan kreatif dalam menciptakan kebudayaan, hidup berbudaya, dan membudaya. Kebudayaan bertautan dengan kehidupan manusia sepenuhnya, kebudayaan menyangkut sesuatu yang nampak dalam bidang eksistensi setiap manusia. Manusia tidak terlepas dari kebudayaan, bahkan manusia itu baru menjadi manusia karena bersama kebudayaannya (C. A. Van Peursen, 1957).
6. Manusia sebagai Makhluk Susila
    Menurut Immanuel Kant, manusia memiliki aspek kesusilaan karena pada
manusia terdapat rasio praktis yang memberikan perintah mutlak (categorical
imperative). Contoh: jika kita meminjam barang milik orang lain maka ada perintah yang mewajibkan untuk mengembalikan barang pinjaman tersebut. (S.E. Frost Jr., 1957; P.A. Van Der Weij, 1988). Sehubungan hal itu, dapatlah dipahami jika Henderson (1959) menyatakan: "Man is creature who makes moral distinctions. Only human beings question whether an act is morally right or wrong".
      Oleh karena itu manusia mempunyai kebebasan memilih dan menentukan perbuatannya secara otonom maka selalu ada penilaian moral atau tuntutan pertanggung-jawaban atas perbuatannya.
7. Manusia sebagai Makhluk Beragama
    Aspek keberagamaan merupakan salah satu karakteristik esensial eksistensi
manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku.Seperti telah kita maklumi dari uraian diatas, manusia memiliki potensi untuk mampu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. Di lain pihak, Tuhanpun telah menurunkan wahyu melalui utusan-utusanNya.


Kesimpulan :
Jadi berdasarkan uraian diatas dapat saya simpulkan bahwa sebagai manusia yang mempunyai akal dan pikiran tidak akan lepas dari berbagai aspek diatas.Manusia adalah kesatuan badan-rohani, hidup bersosial, sadar akan diri dan lingkungannya, mempunyai berbagai kebutuhan, nafsu, dan tujuan hidup. Manusia memiliki berbagai potensi, yaitu potensi untuk mampu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbuat baik dan mempunyai kebebasan memilih dan bertanggung jawab atas apa yang dipilihnya.

B. Aspek Pedagogis
Pedagogis adalah ilmu pendidikan yang menyelidiki atau mengintai mengawasi tentang gejala perbuatan pendidik.
1. Filosofi manusia sebagai makhluk tuhan ditinjau dari aspek Pedagogis.
Manusia terlahir sebagai khalifah dab hamba Allah SWT,selain untuk menyembah Allah SWT,  manusia juga sebagai pemimpin dimuka bumi ini.

2. Manusia sebagai makhluk individu.
Setiap manusia mampu menempati posisi,berhadapan,menghadapi,memasuki,memikirkan,bebas mengambil sikap Dan tindakan atas tanggung jawabnya.
3. Manusia sebagai makhluk sosial.
Aritoteles menyebutkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial atau bermasyarakat karena manusia dapat mengukuhkan eksitensinya.

C. Kemungkinan manusia dapat dididik
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Tatang Syaripudin baik dalam Tesis maupun dalam Landasan Pendidikan (1994, 208) bahwa “Manusia belum selesai menjadi manusia, ia dibebani keharusan untuk menjadi manusia, tetapi ia tidak dengan sendirinya menjadi manusia, untuk menjadi manusia ia perlu dididik dan mendidik diri. “Manusia dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan”, demikian kesimpulan Immanuel Kant dalam teori pendidikannya (Henderson, 1959). Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil studi M.J. Langeveld yang memberikan identitas kepada manusia dengan sebutan Animal Educandum (M.J.
Langeveld, 1980).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang
membutuhkan penyempurnaan sebagai manusia melalui pendidikan, dan
kebutuhan untuk mengembangkan dirinya melalui upaya yang terus menerus
menggali potensi dengan proses mendidik diri.

D.  Hubungan hakikat manusia dengan Pendidikan dan hubungan manusia dengan pendidikan
A.  Hubungan hakikat manusia dengan pendidikan
      Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna yang memilki kemampuan intelektual dan daya nalar sehingga manusia mampu berfikir,berbuat, dan bertindak untuk membuat perubahan dengan maksud pengembangan sebagai manusia yang utuh. Manusia berfikir secara dinamis.
      Dalam kaitannya dengan perkembangan individu, manusia dapat tumbuh dan berkembang melalui suatu proses alami menuju kedewasaan baik bersifat jasmani maupun rohani. Oleh karena itu, manusia memerlukan pendidikan demi mendapatkan perkembangan yang optimal sebagai manusia.
B. Hubungan manusia dengan pendidikan 
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang mempunyai akal dan pikiran yang dibekali berbagai kelebihan diantaranya kemampuan berfikir, berperasaan dan kemampuan lainnya dan manusia makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Tuhan YME. Manusia mempunyai rasa ingin tahu. Jadi pendidikan mutlak harus ada pasa manusia, karena pendidikan merupakan hakikat hidup dan kehidupan.

E. Asas terkait manusia dengan pendidikan menurut M. J Langeveld 
1.Asas Potensialitas. Pendidikan bertujuan agar seseorang menjadi manusia ideal atau berpotensi dalam bidang pendidikan . Sosok manusia ideal tersebut antara lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, bermoral/berakhlak mulia, cerdas, berperasaan, berkemauan, mampu berkarya.
2. Asas Sosialitas. Pendidikan berlangsung dalam pergaulan (interaksi/komunikasi) antar sesama manusia (pendidik dan peserta didik). Melalui pergaulan tersebut pengaruh pendidikan disampaikan pendidik dan diterima peserta dididik.
3. Asas Individualitas. Praktik pendidikan merupakan upaya membantu manusia (peserta didik) yang antara lain diarahkan agar ia mampu menjadi dirinya sendiri. Dipihak lain, manusia (peserta didik) adalah individu yang memiliki ke-diri-sendirian (subyektivitas), bebas dan aktif berupaya untuk menjadi dirinya sendiri. Sebab itu, individualitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik.
4. Asas Moralitas. Pendidikan bersifat normatif, artinya dilaksanakan berdasarkan sistem norma dan nilai tertentu. Di samping itu, pendidikan bertujuan agar manusia berakhlak mulia; agar manusia berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang bersumber dari agama, masyarakat dan budayanya.
5. Asas Dinamika Manusia selalu aktif baik dalam aspek fisiologik maupun spiritualnya. Ia selalu ingin mengejar segala hal yang lebih dari apa yang telah mereka dapatkan. Ia berusaha mengaktualisasikan diri menjadi manusia yang ideal, baik dalam rangka interaksi atau komunikasinya. Jadi tujuan dari sudut pendidik, pendidikan dilakukan dalam rangka membantu manusia (peserta didik) agar menjadi manusia ideal. Di pihak lain manusia itu sendiri memiliki dinamika untuk menjadi manusia ideal. 

F.  Pendidikan sebagai humanisasi 
   Humanisasi pendidikan adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk pengembangan potensi-potensi peserta didik sebagai manusia seutuhnya, yang dilakukan secara manusiawi (memanusiakan rnanusia), sehingga peserta didik dapat berkembang baik menuju kearah kesempurnaan. Pandangan manusia dan proses humanisasi, banyak diuraikan dan diyakini selalu menjadi perhatian para pemikir dalam pelbagai bidang ilmu. Namun, meskipun ada banyak pendapat tentang humanisme, yang paling jelas, baik secara sadar ataupun tidak sadar, eksplisit maupun implisit, terarah pada keinginan yang besar untuk mengkultuskan manusia. 
  Humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan generasi yang cerdas nalar, cerdas emosional, dan cerdas spiritual, bukan menciptakan manusia yang kerdil, pasif, dan tidak mampu mengatasi persoalan yang dihadapi. Pendidikan meniscayakan untuk lebih membentuk manusia lebih manusiawi, dan tentunya dengan mengedepankan aspek-aspek kemanusiaan, karena peserta didik adalah manusia yang harus dimanusiakan.

G. Pengertian Pendidikan dan Ham
Pengertian Pendidikan 
Pendidikan (bahasa Inggris : education) adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.
Pengertian Pendidikan secara umum adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik agar secara aktif mengembangkan potensi dirinya 

Pengertian Ham
Pengertian HAM adalah hak-hak dasar manusia yang dimiliki sejak berada dalam kandungan dan setelah lahir ke dunia (kodrat) yang berlaku secara universal dan diakui oleh semua orang.

H. Hubungan manusia dan Ham dengan harkat dan martabat manusia 
Harkat dan martabat manusia tidak terlepas dari hak asasi manusia dalam menjaga harga dirinya karena sudah melekat sejak lahir dan terbawa dalam kehidupan bermasyarakat. Demikian juga dengan kewajiban asasi manusia yaitu untuk membatasi hak yang dimiliki.
Pendidikan sebagai Hak Setiap Warga Negara. Hak untuk mendapatkan pendidikan bagi setiap warga negara tertuang dalam Pasal 31 UUD Rl 1945,
1. Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
2. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah 
wajib membiayainya. 
3. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan 
nasional, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur 
dengan undang-undang. 
4. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah, untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa "pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan 
berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi

I. Karakteristik manusia berdasarkan pandangan Hidup pancasila
Pandangan hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut. Menurut saya hal ini benar, kita hidup di negara indonesia yang memiliki sebuah ideologi yaitu Pancasila, pancasila dapat dikatakan sebagai ideologi karena pancasila mempunyai pandangan hidup bangsa indonesia menuju ke demokrasi. Pandangan hidup tersebut diwujudkan untuk mensejahterakan rakyat dan rakyat bisa ikut peran dalam pemerintahan. Pandangan hidup bangsa indonesia juga dapat diambil dari ke lima sila dalam pancasila yang merupakan juga cita-cita bangsa indonesia sejak merdeka. Hal ini sangat penting karena dengan menerapkan nilai – nilai luhur pancasila dalam kehidupan sehari – hari maka tata kehidupan yang harmonis diantara masyarakat Indonesia dapat terwujud. 

J. Jelaskan dimensi berikut ini 

1. Dimensi Intelektual
Mampu mengembangkan wawasan dan iptek, terampil mengkomunikasikan pengetahuan dan memecahkan masalah.

2. Dimensi Sosial

Dimensi sosial pada diri manusia akan terlihat sangat jelas pada dorongan untuk bisa bergaul satu sama lain, dengan adanya dorongan untuk bergaul tersebutlah, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Manusia itu sendiri memang dilahirkan sebagai suku bangsa tertentu dengan adat kebudayaan tertentu pula.

3.Dimensi Personal
    Lysen mengartikan individu sebagai “ orang seorang”, sesuatu yu keutang merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi (in devide), selanjutnya individu diartikan sebagai pribadi.Setiap anak manusia yang dilahirkan telah dikaruniai potensi untuk menjadi berbeda dari yang lain atau menjadi seperti dirinya sendiri.Karena adanya individualitas itu setiap orang memiliki kehendak, perasaan, cita-cita, kecenderungan, semangat dan daya tahan yang berbeda.

4. Dimensi Produktivitas
    Kesanggupan memilih pekerjaan sesuai dengan kemampuan, keserasian hidup bekeluarga, pandai menempatkan diri sebagai konsumen dan produsen, serta kreatif dan berkarya.




Sumber :
Dr. Muhammad S. Sumantri,  M. Pd. Hakikat Manusia dan Pendidikan. 

Moh. Ibu Sulaiman Slamet. 2003. Manusia sebagai makhluk Pedagogis. 32-44.

Https://jurnal.mtsddicilellang.sch.id/index.
php. Al-musannif.

Dr. Y. Suyitno, M. Pd. Manusia dan Pendidikan.Modul 1.

Tatang So. 2010. Landasan Pendidikan, Manusia dan Pendidikan. 

Sholehudin, M.Pd. 2018. Humanisasi Pendidikan. Artikel 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TAK DIHARAPKAN ? Cahaya indahnya senja berganti kelabu Semua yang tersimpan raup dari sisiku Segala yang tangan ini genggam, jatuh me...